Essay

Tulisan ini adalah tulisan terbaik ketika pkd (masih dalam tahap belajar walaupun dalam keadaan mendadak).

Krisis Pemimpin

"setiap orang adalah pemimpin dan yang utama adalah memimpin diri sendiri"
Slogan yang sudah tidak asing ini selalu bergema pada tiap-tiap gertakan dalam organisasi. Kepemimpinan, pemimpin, merupakan frasa yang menggambarkan tentang "bagaimana mempengaruhi". Diri sendiri perlu dipimpin, perlu dipengaruhi bahkan perlu diyakinkan sebelum kita memimpin orang lain.
Diri sendiri,  satu individu perlu dipimpin lalu bagaimana dengan 2 orang, 3 orang, 50 orang? Setiap orang dilahirkan dengan jiwa kepemimpinan, hanya saja ada individu yang lebih memilih dipimpin, karena sebagian besar menganggap resiko menjadi pemimpin terlalu besar dan berat.
Lalu "statment" inilah yang menyebabkan Indonesia krisis pemimpin. Terbukti pada pilkada 2018 banyak terlaksana pemilu di beberapa daerah ada calon tunggal. Karena hanya ada 1 orang/2 orang pasangan yang mampu dan mau mencalonkan diri sebagai pemimpin suatu daerah.
Kepemimpinan tak berarti "sempit" Untuk mempengaruhi orang lain. Kepemimpinan juga mampu diartikan sebagai kemampuan untuk mengatur, mengontrol bagaimana elemen dibawahnya.
Bagaimana ukuran atau kapasitas untuk menunjukkan bahwa pemimpin itu layak dan dianggap ideal?
Umat Islam mempunyai suri tauladab pemimpin yang hebat,  Nabi Muhammad SAW. Pemimpin ideal memiliki 4 sifat yang oatut dicontoh dan di laksanakan:
Shidiq (Benar)
Amanah (Dapat dipercaya)
Tabligh (Menyampaikan)
Fathanah (Cerdas)
ketika 4 poin kapasitas tersebut telah dilaksanakan semaksimal mungkin, maka tak bisa dipungkiri, sifat-sifat dan kapasitas pemimpin yang ideal akan mempengaruhi.
Lalu bagaimana solusi atas krisis pemimpin di Indonesia? Hanya ada satu Jawaban : mencoba. Cobalah untuk memimpin dari hal kecil, diri sendiri, 2 orang, 3 orang hingga organisasi kecil maupun organisasi besar. Pemimpin tak pernah terbatas hanya pada menjadi seorang "ketua", jabatan-jabatan dibawahnya pemimpin,  hanya saja cukupan yang dipimpin lebih kecil.
Ketika setiap individu mempunyai kesadaran untul menjadi pemimpin, mempunyai kesadaran bahwa dirinya mampu,  maka niscaya tak akan ada lagi "krisis pemimpin". Adanya hanya para calon pemimpin yang aoan bersaing,  berebut untuk sebuah tanggung jawab "memimpin" terbaik.
"ketika kita tidak mampu jadi pemimpin,  hendaknya kita mau dipimpin. Tumbuhkanlah Kesadaran bahwa aksi lebih utama dari pada teori"

Oleh : Makhilatul Sa'adah
Editor: Manifesto

ANALISIS DIRI

Ketika kita berbicara tentang menganalisa diri, kita toidak akan pernah lepas dari analisis sosial.mengapa demikian? Karena, kita sebagai makhluksosial pastilah tidak bisa hidup sendiri atau individualis. Kita pasti membutuhkan seseorang untuk masuk dalam kehidupan kita. Tidak mungkinlah, kita akan melakukan semua senidri. Sedangkan, analisis diri adalah cara kita mengenali diri kita sendiri. Siapa kita? Bagaimana cara kita untuk intropeksi diri? Apakah kita pantas bersosial dengan orang lain sedangkan kita masih sangat egois dan tidak atau belum bisa mendengarkan saran dan kritik dari orang lain.oleh karena itu, analisis diri ini sangatlah penting untuk kita yang masih atau sedang mencari jati diri. Selain intropeksi , kita juga membutuhkan teman untuk membuktikan jati diri kita.yang paling penting, menurut saya adalah dorongan dari orang tua dari diri masing-masing. Sebab, masukan dari orang tua adalah yang sangat dibutuhkan dari diri kita. Ketika orang tua mereka sangat mendukung apa yang akan kita kerjakan, maka kita akan lebih semangat untuk mengerjakannya. Sedangkan, apabila perkataan orang tua itu mematahkan semangat kita, maka sudah dipastikan kita sudah tak punya semnangat lagi. Setelah kita menemukan jati diri kita semisal tujuan kita adalah bergerak menuju yang lebih baik, maka kita harus memikirkan bagaimana cara menjadi yang lebih baik. Dalam perspektif islam, “orang yang beruntung adalah orang yang menjadi lebih baik dari kemarin. Maka dari itu, kita harus selalu mencoba untuk menjadi lebih baik dari kemarin. Seperti bisa bermanfaat untuk orang lain. Khairunnas Anfa'uhum Linnas ” Sebaik-baik manusia adalah seseorang yang bermanfaat untuk orang lain. Seperti sabda Rasululah SAW “ sampaikanlah, walaupun hanya satu ayat”. Bisa dilihat dari kutipan tersebut. Sebenarnya kita tidak bodoh, hanya saja kurang paham. Intinya, ketika kita berusaha menempatkan dengan baik d dalam masyarakat, maka insha Allah kita sudah bermanfaat bagi orang lain.

Oleh: Intan Rizqina Aulia
Editor: Manifesto

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekolah Islam dan Gender (SIG) KOPRI Feminea PMII Rayon Aufklarung